Oleh Pangeran Siahaan
Pecinta Sepak Bola
ANDA harus memberi pembelaan diri yang bombastis dan sensasional jika ingin selamat dari cercaan usai kalah 10-0 dalam pertandingan sepak bola.
Lapangannya dihujani asteroid, ada gundukan tikus tanah di depan gawang, tim lawan diperkuat Terminator, bola yang dipakai dikendalikan oleh remote control, menipisnya lapisan ozon berpengaruh pada performa tim, efek pemanasan global menurunkan VO2max para pemain, para pemain masih sibuk membayangkan kaki kanan Angelina Jolie saat Oscar, atau yang paling masuk akal, para pemain Anda alergi mendadak terhadap rumput.
Kreasikanlah alasan Anda secantik mungkin, tapi Anda tak bisa dengan santai melenggang mengatakan Anda kebobolan 10-0 karena kepemimpinan wasit yang buruk semata.
Timnas Indonesia memang tidak dikenal sebagai tim yang sering menang, tapi kekalahan 10-0 dari Bahrain semalam tercatat sebagai kekalahan terbesar dalam sejarah kita, menggusur catatan terburuk sebelumnya saat kita kalah 9-0 dari Denmark pada dekade 1970-an.
Saya tidak menonton pertandingan yang memalukan itu semalam karena sedang mengisi acara stand up comedy di sebuah tempat. Tak disangka saat saya sedang menyampaikan lelucon-lelucon dan berharap orang tertawa, timnas Indonesia sedang melakukan hal yang serupa di TV nasional, tapi bukan tawa yang muncul, tapi rasa miris diikuti isak tangis.
Tidak pernah mudah untuk bermain tandang dan kehilangan pemain karena kartu merah sejak menit ke-3, terlebih jika yang diusir adalah Syamsidar, kapten tim dan satu dari sedikit pemain timnas dengan pengalaman internasional. Hampir semua anggota skuad timnas yang berangkat ke Bahrain baru pertama kali mengecap aroma pertandingan di luar negeri.
Bahkan semalam adalah kali pertama bagi Diego Michiels, Gunawan Dwi Cahyo, dan Abdul Rahman untuk bermain bagi timnas senior. Praktis hanya Irfan Bachdim, Ferdinand Sinaga, dan Syamsidar yang sudah memiliki cap senior sebelum partai kontra Bahrain.
Kalkulasi sederhana, dengan 11 pemain saja kecil kemungkinan kita untuk sekadar memetik hasil seri, apalagi 10 pemain.
Sepuluh gol, Saudara. Sepuluh gol. Mungkin para petinggi PSSI dan suporter Indonesia yang berdada paling lapang sedunia itu masih merasa familiar saat skor menunjukkan 4-0 atau 5-0. Tapi setiap gol yang bersarang di gawang kita sejak gol ke-6 terasa seperti tamparan di pipi bagi pengurus PSSI dan segenap penonton sepak bola Indonesia.
Saat gol ke-10 tercipta, itu bukan lagi tamparan biasa dengan telapak tangan biasa, tapi tamparan dengan sarung tangan besi berserpih potongan adamantium yang meninggalkan bekas luka. Tidak hanya bagi pengurus PSSI dan penonton, tapi juga bagi para pemain yang rata-rata masih hijau.
Tak pelak lagi tragedi 10-0 ini akan memercikkan bensin ke perdebatan soal tidak bolehnya para pemain ISL, yang notabene lebih berpengalaman dan lebih kaya secara kualitas, untuk memperkuat tim nasional. Kemarahan suporter dan kemungkinan beberapa pihak untuk mengail di air keruh sangat mungkin untuk menempatkan PSSI dalam situasi tersudut.
Entah apa yang dikatakan dan dilakukan oleh PSSI menyusul kekalahan memalukan ini. Mudah-mudahan saat ditanya apakah mereka mempunyai itikad baik untuk membangun sepak bola Indonesia, mereka tidak memberi jawaban seperti Angelina Sondakh di sidang kasus Nazaruddin, ”Saya tidak punya, Yang Mulia”. [A]
Pecinta Sepak Bola
ANDA harus memberi pembelaan diri yang bombastis dan sensasional jika ingin selamat dari cercaan usai kalah 10-0 dalam pertandingan sepak bola.
Lapangannya dihujani asteroid, ada gundukan tikus tanah di depan gawang, tim lawan diperkuat Terminator, bola yang dipakai dikendalikan oleh remote control, menipisnya lapisan ozon berpengaruh pada performa tim, efek pemanasan global menurunkan VO2max para pemain, para pemain masih sibuk membayangkan kaki kanan Angelina Jolie saat Oscar, atau yang paling masuk akal, para pemain Anda alergi mendadak terhadap rumput.
Kreasikanlah alasan Anda secantik mungkin, tapi Anda tak bisa dengan santai melenggang mengatakan Anda kebobolan 10-0 karena kepemimpinan wasit yang buruk semata.
Timnas Indonesia memang tidak dikenal sebagai tim yang sering menang, tapi kekalahan 10-0 dari Bahrain semalam tercatat sebagai kekalahan terbesar dalam sejarah kita, menggusur catatan terburuk sebelumnya saat kita kalah 9-0 dari Denmark pada dekade 1970-an.
Saya tidak menonton pertandingan yang memalukan itu semalam karena sedang mengisi acara stand up comedy di sebuah tempat. Tak disangka saat saya sedang menyampaikan lelucon-lelucon dan berharap orang tertawa, timnas Indonesia sedang melakukan hal yang serupa di TV nasional, tapi bukan tawa yang muncul, tapi rasa miris diikuti isak tangis.
Tidak pernah mudah untuk bermain tandang dan kehilangan pemain karena kartu merah sejak menit ke-3, terlebih jika yang diusir adalah Syamsidar, kapten tim dan satu dari sedikit pemain timnas dengan pengalaman internasional. Hampir semua anggota skuad timnas yang berangkat ke Bahrain baru pertama kali mengecap aroma pertandingan di luar negeri.
Bahkan semalam adalah kali pertama bagi Diego Michiels, Gunawan Dwi Cahyo, dan Abdul Rahman untuk bermain bagi timnas senior. Praktis hanya Irfan Bachdim, Ferdinand Sinaga, dan Syamsidar yang sudah memiliki cap senior sebelum partai kontra Bahrain.
Kalkulasi sederhana, dengan 11 pemain saja kecil kemungkinan kita untuk sekadar memetik hasil seri, apalagi 10 pemain.
Sepuluh gol, Saudara. Sepuluh gol. Mungkin para petinggi PSSI dan suporter Indonesia yang berdada paling lapang sedunia itu masih merasa familiar saat skor menunjukkan 4-0 atau 5-0. Tapi setiap gol yang bersarang di gawang kita sejak gol ke-6 terasa seperti tamparan di pipi bagi pengurus PSSI dan segenap penonton sepak bola Indonesia.
Saat gol ke-10 tercipta, itu bukan lagi tamparan biasa dengan telapak tangan biasa, tapi tamparan dengan sarung tangan besi berserpih potongan adamantium yang meninggalkan bekas luka. Tidak hanya bagi pengurus PSSI dan penonton, tapi juga bagi para pemain yang rata-rata masih hijau.
Tak pelak lagi tragedi 10-0 ini akan memercikkan bensin ke perdebatan soal tidak bolehnya para pemain ISL, yang notabene lebih berpengalaman dan lebih kaya secara kualitas, untuk memperkuat tim nasional. Kemarahan suporter dan kemungkinan beberapa pihak untuk mengail di air keruh sangat mungkin untuk menempatkan PSSI dalam situasi tersudut.
Entah apa yang dikatakan dan dilakukan oleh PSSI menyusul kekalahan memalukan ini. Mudah-mudahan saat ditanya apakah mereka mempunyai itikad baik untuk membangun sepak bola Indonesia, mereka tidak memberi jawaban seperti Angelina Sondakh di sidang kasus Nazaruddin, ”Saya tidak punya, Yang Mulia”. [A]
0 komentar:
Posting Komentar