KOMITE Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) mendukung langkah FIFA, yang akan menyelidiki hasil pertandingan antara Bahrain kontra Indonesia dengan kemenangan telak untuk Bahrain 10-0. Hal tersebut dikatakan Ketua KPSI, Tonny Aprilani di Sekertariat Pengprov PSSI Jabar, Jalan Lodaya, tadi pagi.
Tonny mengatakan, investigasi yang dilakukan oleh FIFA ini tentunya harus didukung oleh semua pihak, dan untuk hasilnya seperti apa tentunya semuanya diserahkan ke FIFA, sehingga semua orang bisa mengetahui apa yang terjadi di balik semua ini.
Tonny juga menyayangkan sikap PSSI yang menggantikan list nama-nama pemain yang berlaga pada Pra Piala Dunia sebelumnya, dengan pemain-pemain muda yang notabene masih kurang dalam pengalaman.
“KPSI sudah jelas mendapatkan surat, yang pertama surat kebohongan PSSI yang menulis ke FIFA mengganti nama-nama pemain Pra Piala Dunia yang sebelumnya diperkuat oleh Firman Utina cs, yang dianggap berkompetisi pada pertandingan ilegal. Padahal jelas-jelas sebelumnya FIFA, AFC, KONI, dan pemerintah sudah me-warningnya,” kata Tonny.
Dia menambahkan dalam surat pergantian pemain tersebut, PSSI mengatakan bahwa pemain yang berlaga saat Bahrain kemarin sebelumnya pernah mengikuti kompetisi Liga Super Indonesia (LSI), dan tentunya itu merupakan sebuah kebohongan yang dilakukan PSSI terhadap federasi tertinggi sepak bola.
Untuk menghindari keslahpahaman, KPSI sudah mengirimkan surat kepada FIFA dan AFC untuk mengklarifikasi hal tersebut. “Kita jangan berburuk sangka dulu, dan saling curiga. Biarkan investigasi ini berjalan, karena kita menganut azas praduga tak bersalah,” kata Tonny.
Dia menambahkan kekalahan telak 10-0 atas Bahrain ini merupakan sebuah tamparan bagi persepak bolaan Indonesia, mengapa tidak selama sejarah Timnas, baru kali ini Indonesia mengalami kekalahan yang sangat fantastis, dan ini sangat jelas memalukan bagi Indonesia.
Tonny mengatakan, KPSI siap membatu FIFA jika memerlukan data-data atupun informasi yang diperlukan. Saat ini KPSI telah menyiapkan buku yang berisi segala hal yang diperlukan jika diperlukan AFC dan FIFA.
“Buku ini merupakan laporan hasil pertemuan pertama pada tanggal 18 Desember, 21 Januari, dan kongres tahunan pada tanggal 5 Februari. Termasuk daftar 18 klub ISL dan nama-nama pemainnya. Semua itu telah kami bukukan dan dinotariskan,” kata Tonny.
Mengenai kekalahan ini tentunya harus ada pihak-pihak yang bertanggung jawab, mengiat dilihat permainan Bahrain bermain tidak begitu baik dibandingkan Indonesia. Kekalahan ini juga akan berpengaruh terhadap psikologis pemain, yang tentunya akan sulit dihilangkan.
“Di luar negeri pelatih atau manajer pastinya kan mengundurkan diri, jika menerima kekalahan telak seperti ini. Dan harusnya pemain di ISL juga berhak untuk ikut, karena mereka juga masih anggota AFC dan FIFA. Siapapun anak bangsa terbaik ,punya hak untuk membela merah putih, dan itu diabaikan Djohar saat ini,” katanya. [zb/pr/*]
Tonny mengatakan, investigasi yang dilakukan oleh FIFA ini tentunya harus didukung oleh semua pihak, dan untuk hasilnya seperti apa tentunya semuanya diserahkan ke FIFA, sehingga semua orang bisa mengetahui apa yang terjadi di balik semua ini.
Tonny juga menyayangkan sikap PSSI yang menggantikan list nama-nama pemain yang berlaga pada Pra Piala Dunia sebelumnya, dengan pemain-pemain muda yang notabene masih kurang dalam pengalaman.
“KPSI sudah jelas mendapatkan surat, yang pertama surat kebohongan PSSI yang menulis ke FIFA mengganti nama-nama pemain Pra Piala Dunia yang sebelumnya diperkuat oleh Firman Utina cs, yang dianggap berkompetisi pada pertandingan ilegal. Padahal jelas-jelas sebelumnya FIFA, AFC, KONI, dan pemerintah sudah me-warningnya,” kata Tonny.
Dia menambahkan dalam surat pergantian pemain tersebut, PSSI mengatakan bahwa pemain yang berlaga saat Bahrain kemarin sebelumnya pernah mengikuti kompetisi Liga Super Indonesia (LSI), dan tentunya itu merupakan sebuah kebohongan yang dilakukan PSSI terhadap federasi tertinggi sepak bola.
Untuk menghindari keslahpahaman, KPSI sudah mengirimkan surat kepada FIFA dan AFC untuk mengklarifikasi hal tersebut. “Kita jangan berburuk sangka dulu, dan saling curiga. Biarkan investigasi ini berjalan, karena kita menganut azas praduga tak bersalah,” kata Tonny.
Dia menambahkan kekalahan telak 10-0 atas Bahrain ini merupakan sebuah tamparan bagi persepak bolaan Indonesia, mengapa tidak selama sejarah Timnas, baru kali ini Indonesia mengalami kekalahan yang sangat fantastis, dan ini sangat jelas memalukan bagi Indonesia.
Tonny mengatakan, KPSI siap membatu FIFA jika memerlukan data-data atupun informasi yang diperlukan. Saat ini KPSI telah menyiapkan buku yang berisi segala hal yang diperlukan jika diperlukan AFC dan FIFA.
“Buku ini merupakan laporan hasil pertemuan pertama pada tanggal 18 Desember, 21 Januari, dan kongres tahunan pada tanggal 5 Februari. Termasuk daftar 18 klub ISL dan nama-nama pemainnya. Semua itu telah kami bukukan dan dinotariskan,” kata Tonny.
Mengenai kekalahan ini tentunya harus ada pihak-pihak yang bertanggung jawab, mengiat dilihat permainan Bahrain bermain tidak begitu baik dibandingkan Indonesia. Kekalahan ini juga akan berpengaruh terhadap psikologis pemain, yang tentunya akan sulit dihilangkan.
“Di luar negeri pelatih atau manajer pastinya kan mengundurkan diri, jika menerima kekalahan telak seperti ini. Dan harusnya pemain di ISL juga berhak untuk ikut, karena mereka juga masih anggota AFC dan FIFA. Siapapun anak bangsa terbaik ,punya hak untuk membela merah putih, dan itu diabaikan Djohar saat ini,” katanya. [zb/pr/*]

0 komentar:
Posting Komentar