KOMITE Olahraga Nasional Indonesia (KONI) telah mengeluarkan surat rekomendasi atas nama Ketua Umum Tono Suratman. Isinya, memberikan rekomendasi Kongres Luar Biasa (KLB).
Adalah Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI), yang akan menggelar KLB ini pada hari Sabtu dan Minggu (17-18 Maret 2012) di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.
KPSI adalah manifestasi mayoritas anggota PSSI. Mereka tidak puas dan mencabut mandat kepada ketua umum PSSI Djohar Arifin Husin dan jajaran pengurus eksekutifnya karena dinilai sarat kepentingan tertentu dan tidak menghiraukan aspirasi para anggotanya.
Berbekal dukungan lebih dari 2/3 jumlah total anggota, seperti yang disyaratkan lewat statuta PSSI, KPSI memutuskan menggelar KLB untuk memilih pengurus baru PSSI yang bersih dari kepentingan kelompok pada hari Sabtu dan Minggu (17 dan 18 Maret 2012) di Hotel Mercure, Ancol.
Ketidakpuasan para anggota bermula dari pembekuan Liga Super Indonesia (ISL) secara sepihak oleh PSSI dan pembentukan kompetisi baru Liga Primer Indonesia (IPL). Pembentukan ini dinilai sarat kepentingan, karena itu, mayoritas anggotanya tetap menggulirkan ISL.
Djohar menunjukkan tangan besinya dengan tidak menyertakan pemain-pemain ISL dalam sejumlah agenda timnas Indonesia, padahal sebagian besar skuad Timnas Indonesia terdiri dari pemain-pemain ISL.
Akibatnya, Timnas menurunkan mayoritas pemain yang baru pertama kali mengenakan kostum Merah Putih. Mereka digilas Bahrain 10-0 pada kualifikasi Piala Dunia 2014 Februari lalu, kekalahan terbesar yang pernah dialami timnas Indonesia sejak PSSI terbentuk 1930 silam. Melihat kemunduran sepak bola nasional yang begitu nyata, masyarakat dan pemerintah serempak sepakat harus segera bertindak untuk mencegah Merah Putih lebih merosot lagi.
KONI telah mengatur sejumlah pertemuan rekonsiliasi antara PSSI dengan KPSI, namun PSSI tidak menunjukkan niat seriusnya. Terbukti, ketua umum tidak pernah datang meski KONI mengharapkannya.
Surat bernomor 37/UMM/III/12 yang ditujukan untuk Ketua KPSI itu merupakan tanggapan terhadap surat bernomor 053/KPSI/III/2012 pada 14 Maret 2012 permohonan rekomendasi kegiatan KLB dari KPSI.
Dan diakhir surat yang ditandatangani Sekjen KONI Pusat Hamidy atas nama Ketua Umum KONI Pusat tono Suratman, dijelaskan pula alasan KONI Pusat mengeluarkan surat rekomendasi itu.
"Agar penyelenggaraan Kongres tersebut dapat berjalan lancar, tertib, dan aman, mohon dapat dipersiapkan dengan sebaik-baiknya dan selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya PSSI dan pihak kepolisian. Rekomendasi ini kami berikan agar permasalahan yang sedang terjadi di internal organisasi PSSI dapat terselesaikan," tulis surat itu.
Selain ditujukan untuk Ketua KPSI Tonny Aprilani, surat itu juga ditembuskan untuk Ketua Umum KONI Pusat, sebagai laporan, para Wakil Ketua Umum, Bidang Organisasi, Kapolri u.p Kabaintelkam, Mabes Polri, dan Kapolda Metro Jaya. [inilah]
Adalah Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI), yang akan menggelar KLB ini pada hari Sabtu dan Minggu (17-18 Maret 2012) di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.
KPSI adalah manifestasi mayoritas anggota PSSI. Mereka tidak puas dan mencabut mandat kepada ketua umum PSSI Djohar Arifin Husin dan jajaran pengurus eksekutifnya karena dinilai sarat kepentingan tertentu dan tidak menghiraukan aspirasi para anggotanya.
Berbekal dukungan lebih dari 2/3 jumlah total anggota, seperti yang disyaratkan lewat statuta PSSI, KPSI memutuskan menggelar KLB untuk memilih pengurus baru PSSI yang bersih dari kepentingan kelompok pada hari Sabtu dan Minggu (17 dan 18 Maret 2012) di Hotel Mercure, Ancol.
Ketidakpuasan para anggota bermula dari pembekuan Liga Super Indonesia (ISL) secara sepihak oleh PSSI dan pembentukan kompetisi baru Liga Primer Indonesia (IPL). Pembentukan ini dinilai sarat kepentingan, karena itu, mayoritas anggotanya tetap menggulirkan ISL.
Djohar menunjukkan tangan besinya dengan tidak menyertakan pemain-pemain ISL dalam sejumlah agenda timnas Indonesia, padahal sebagian besar skuad Timnas Indonesia terdiri dari pemain-pemain ISL.
Akibatnya, Timnas menurunkan mayoritas pemain yang baru pertama kali mengenakan kostum Merah Putih. Mereka digilas Bahrain 10-0 pada kualifikasi Piala Dunia 2014 Februari lalu, kekalahan terbesar yang pernah dialami timnas Indonesia sejak PSSI terbentuk 1930 silam. Melihat kemunduran sepak bola nasional yang begitu nyata, masyarakat dan pemerintah serempak sepakat harus segera bertindak untuk mencegah Merah Putih lebih merosot lagi.
KONI telah mengatur sejumlah pertemuan rekonsiliasi antara PSSI dengan KPSI, namun PSSI tidak menunjukkan niat seriusnya. Terbukti, ketua umum tidak pernah datang meski KONI mengharapkannya.
Surat bernomor 37/UMM/III/12 yang ditujukan untuk Ketua KPSI itu merupakan tanggapan terhadap surat bernomor 053/KPSI/III/2012 pada 14 Maret 2012 permohonan rekomendasi kegiatan KLB dari KPSI.
Dan diakhir surat yang ditandatangani Sekjen KONI Pusat Hamidy atas nama Ketua Umum KONI Pusat tono Suratman, dijelaskan pula alasan KONI Pusat mengeluarkan surat rekomendasi itu.
"Agar penyelenggaraan Kongres tersebut dapat berjalan lancar, tertib, dan aman, mohon dapat dipersiapkan dengan sebaik-baiknya dan selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, khususnya PSSI dan pihak kepolisian. Rekomendasi ini kami berikan agar permasalahan yang sedang terjadi di internal organisasi PSSI dapat terselesaikan," tulis surat itu.
Selain ditujukan untuk Ketua KPSI Tonny Aprilani, surat itu juga ditembuskan untuk Ketua Umum KONI Pusat, sebagai laporan, para Wakil Ketua Umum, Bidang Organisasi, Kapolri u.p Kabaintelkam, Mabes Polri, dan Kapolda Metro Jaya. [inilah]

0 komentar:
Posting Komentar